jump to navigation

Jalan Raya, Hidup-Matiku!!! Februari 29, 2008

Posted by salmanparisi in Ngelantur.
trackback

Seperti biasa pagi-pagi aku berangkat kerja. Sangaaaaaaaaaat malas berangkat kerja tuuh, meski kerja siih masih ada semangat karena tuntutan kebutuhan he he he. Bukan apa-apa berangkat kerja adalah perjuangan hidup mati.

Gimana tidak di tengah jalan yang sempit antara Parung-Bingung menuju Buncit harus berebut dengan beratus-ratus sepeda motor yang kayak tawon ngamuk gara-gara sarangnya diganggu, angkot-angkot yang berhenti seenaknya yang hanya Tuhan dan kakinya saja yang tahu kapan dia mau berhenti dan jalan. Udah gitu, nah ini, yang parah kalo sudah ada bis wisata spiritual ke Mesjid Kubah Emas. Seringkali bukan hanya satu malah minimal ada dua atau tiga dan lebih. Baru satu bis aja jalan seperti orang yang kekenyangan, boro-boro buat minum menghirup udara saja susah. Ceeet maceeeettttt deeeeh. Disalip gak bisa, ngikutin di belakang jalannya kayak keong kena ambieyen.

Penderitaan semakin bertambah dengan jalan berlubang-lubang yang kadang ukurannya gak ketulungan. Kayaknya dari planet lain, gak pake mikroskop pun sudah keliatan, kecuali kalau yang ngeliat para pejabat tinggi di negeri ini. Mereka semua buta dan mati rasa. Karena tokh kan mereka semua pada pake mobil mewah he he he he. Yang menyakitkan jalan ini emang sengaja dibuat berlubang, bukan karena hujan atau kebanjiran tapi gara-gara galian yang ditinggalkan seenaknya. Akhirnya kemacetan jadi parah.

Setiap pagi rasanya seperti dalam tekanan ancaman kecelakaan. Karena tok kalo kita hati-hatipun terkadang orang lain yang terkena lubang, atau meleng lagi ngelamun dan berbagai faktor lainnya.

Tetapi ada sedikit hiburan di sebuah baliho bergambar pejabat superbesar di cantumkan kira-kira begini: Alhmadulillah kami bisa menyantuni kematian 2 juta rupiah. Nah looo, aku bingung apa sedih.

Emang siiih mati aja di negeri gemah ripah ini mahal juga. Tetapi apa itu prioritasnya pemerintah daerah? Kenapa gak misalnya memperbaiki jalan biar yang idupnya bisa lancar ekonominya, terus kalo ada keluarga yang meninggal bisa menanggung sendiri biayanya? Ato ekstrimnya pemda ini mo ngomong Anda jangan mikir-mikir jalan rusak deeeh, tokh kan kalo pun Anda mati ada uang santunan he he he.

Komentar»

1. Irfan Permana - Mei 29, 2008

Kang Salman, jalan bolong2 itu justru melatih ketangkasan dan konsentrasi kita, ngepot kanan ngepot kiri. Selain itu menghindari ngantuk juga. Saya kalo ngantuk, biasanya sengaja ngagejlig masuk lobang, biar cenghar lagi. Di jalanan mulus biasanya kita terlena sampai ngantuk. Bukankah banyak juga kecelakaan di jalanan akibat ngantuk? Jadi anggap aja maen game. Cuma bedanya, di jalanan ga ada nyawa kedua dan ketiga sebelum betul2 game over..hehe.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: