jump to navigation

‘Sunan Kalijaga’ dari Kali Mas Januari 24, 2008

Posted by salmanparisi in Uncategorized.
trackback

Namanya Manan. Lelaki 40 tahun ini telah belasan tahun bergelut dengan keruhnya air Kali Mas, Surabaya, Jawa Timur. Dalam sepekan, enam hari enam malam dia habiskan di sana. Siang menyelam melawan arus, malam tidur beratap tenda milik pedagang kaki lima (PKL), berlantai apa saja. Pada hari ketujuh, barulah dia pulang kampung, menemui istri dan keempat anaknya. Manan bukan sedang mencari ilham saat memutuskan menghabiskan sebagian besar waktunya menunggui Kali Mas. Himpitan ekonomilah yang membawanya ke sana, melupakan kehangatan rumah. Kini, Kali Mas adalah rumah keduanya, sekaligus periuk nasinya. Dia hidup dari makhluk yang bagi sebagian orang menjijikkan yang membenamkan diri di lumpur dasar Kali Mas itu. Dia adalah pencari cacing rambut.

Aku ape kerjo opo maneh. Sing aku iso mung iki. Aku mung tamatan Madrasah Ibtida’iyah, masiyo ono tonggo sing ngenyek aku terimo (Mau bekerja apa lagi. Yang aku bisa ya hanya ini. Saya hanya lulusan MI. Walaupun ada tetangga yang menghina, aku terima),” kata Manan, pria kerempeng yang saat ditemui Republika, sedang basah kuyup karena hujan di tepi kali pecahan Sungai Brantas itu.

Hari hujan, adalah saat-saat yang paling sulit dalam perjuangan Manan mencari nafkah. Sebab, hujan membuat debit air kali yang bermuara di Selat Madura itu meningkat. Arusnya pun menjadi lebih deras. Namun, hujan tak selalu berhasil menghalanginya untuk menyelam dan mencari cacing-cacing, agar asap dapurnya tetap mengepul dan anak-anaknya bisa melanjutkan pendidikan.

Manan mengatakan anak-anaknya kini sedang butuh biaya banyak. Anak pertamanya, kini duduk di bangku kelas dua sebuah SMA di Bojonegoro. Anak nomor dua masih SMP kelas dua. Anak nomor tiga kelas lima SD. Ada pun anak nomor empat, masih berusia di bawah umur lima tahun (balita). ”Mereka masih butuh uang jutaan agar bisa lulus sekolah,” kata pria berkumis tebal itu.

Meski berjuang menyelami Kali Mas setiap hari, pendapatan Manan tetap tak tentu. Kadang dapat Rp 16 ribu per hari. Kadang Rp 8.000 per hari. Sering pula tidak mendapat apa-apa, bila hujan deras turun. Padahal, untuk tetap berada di tepi Kali Mas, dia harus mengeluarkan biaya untuk makan. Bila sudah begitu, dia hanya bisa menghabiskan waktunya dengan termenung di tepi Kali Mas.

Pulang sepekan sekali ke rumah, Manan biasanya membawa bekal. Namun, bekal yang disiapkan istrinya, Istianah (37), hanya cukup untuk dua hari. Setelah itu, semua bergantung dari berapa banyak jumlah cacing yang berhasil dia angkat dari dasar Kali Mas yang membelah Kota Surabaya. Kali Mas yang semakin lama semakin tidak bersahabat, karena semakin dipenuhi sampah yang dibuang sembarangan.

Setiap hari, Manan menjual cacing hasil jerih payahnya kepada penyalur dengan harga Rp 8.000 per kaleng susu. Penyalur kemudian akan menjual kepada tauke istilah untuk majikan yang mempunyai tempat penjualan resmi bagi para pembeli cacing dengan harga Rp 12.000 per kaleng susu. Manan tak habis pikir, mengapa penyalur yang tak perlu berpayah-payah menyelam, bisa mengambil untung sampai 50 persen.

Manan dan rekan seprofesinya, pernah mencoba mempersoalkan mekanisme yang tak adil itu, namun tetap tak bisa tembus. Dalam urusan bisnis cacing rambut, tauke ternyata hanya mau berhubungan dengan para penyalur, meski mereka adalah ‘tangan kedua’. Mau apa lagi, begitulah aturan mainnya. ”Jadi, penyalurlah yang beruntung dalam bisnis cacing rambut ini,” katanya, pasrah.

Bertahan
Sekitar delapan tahun yang lalu, profesi sebagai pencari cacing sangat diminati warga sekampung Manan. Sebab dulu, per kaleng susu cacing masih dihargai Rp 25 ribu. Tapi itu dulu, saat ikan Lou Han sedang tren, dan banyak dipelihara di rumah penduduk. Setelah demam Lou Han berlalu, permintaan cacing rambut berkurang. Harga cacing rambut pun langsung terpangkas lebih dari sepertiga.

Saat rekan-rekan sekampungnya telah meninggalkan profesi sebagai pencari cacing yang sudah tak prospektif, Manan memilih tetap bertahan demi menyekolahkan anak-anaknya. Bahkan, dia mengaku tetap akan menjinjing serok, menenteng ban pengapung, menyelam dan menurunkan kais ke Kali Mas di saat badannya sedang sakit sekalipun. Dia beruntung, dalam serbakekurangan, anak-anaknya tidak rewel.

”Walaupun anak-anak di rumah hanya makan dengan lauk kerupuk, tapi mereka sehat semua,” kata Manan, sumringah. Sambil mengisap rokoknya dalam-dalam, Manan mengaku tak peduli kendati harus menjalani hidup bak berjibaku, asal kan anak-anaknya nanti berhasil. ”Saya tidak rela kalau setelah besar nanti mereka seperti saya,” katanya.

Meski dalam pandangan sebagian orang Manan hidup menderita, berada di bawah garis kemiskinan, namun Manan tetap melihat ke bawah. Dia mengatakan masih banyak orang yang bernasib lebih malang dibanding dia. ”Allah tidak akan menyengsarakan umatnya, asal mau berusaha. Karena kita semua sudah dikasih rezeki, asal mau mencarinya,” tuturnya dengan arif. uki. [www.republika.co.id]

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: