jump to navigation

Pasar Bebas Shubuh Hari Januari 11, 2008

Posted by salmanparisi in Uncategorized.
trackback

Setiap subuh menejelang, yang bisa membangunkan saya dari tidur saya adalah suara tahrim yang entah berasal dari arah mana [soalnya mushalanya banyak]. Suara khas yang memekakkan telinga dari aktivitis mesjid kawakan tahun 60-an, suara keras tanpa nada, panjang tanpa merasa berdosa. Dia ucapkan dengan lantang, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kita dari kematian.” Woow keren sekali. Suara itu menjadi langganan membangunkan anak saya yang masih berumur 1.5 bulan. Setelah itu seolah kehilangan kesadaran dia bicara tentang banyak hal dan menyapa kroninya, yang entah datang entah enggak ke mushalla, layaknya penyiar radio menyapa fansnya.

            Itulah sisi lain Subuh saya. Sebenarnya itu intro saja. Ada yang saya nantikan di subuh itu yaitu azan dari dua mesjid yang arahnya entah di mana dari rumah saya itu. Yang pertama sepertinya dari mesjid Kubah Emas. Suaranya merdu, terus sound systemnya lembut. Maklum katanya untuk muazzin saja ada audisi. Yang satu lagi seperti dari mushalla biasa. Dia biasanya melantunan puji-pujian sepuluh menit sebelum azan shubuh. Saya menikmati suara dua orang ini dengan susah payah. Karena, Anda tahu, sendiri, suara speaker shubuh itu, saling bersaing ketat dan bebas. Persaingan yang mengalahkan free market komoditas. Hukum survival of the fittest (baca: siapa yang punya speaker lebih keras itulah yang menang), siap menjungkalkan Anda dari tempat tidur Anda.

            Saking banyaknya speaker di pasar bebas shubuh hari, saya kadang sulit memahami apa yang sedang disampaikan oleh para seleb kepagian ini. Akhirnya saya mengabaikan mereka, dan kemudian pergi mengambil wudhu untuk shalat shubuh.

            Apa yang bisa dikatakan ketika suara sudah tidak bisa dimaknai lagi. Apakah ini yang dinamakan dengan polusi suara? Suara datang dari berbagai penjuru dengan sekeras-kerasnya tetapi sudah kehilangan makna yang akan di sampaikan, sudah kehilangan daya tarik yang bisa mempengaruhi orang. Padahal yang di sampaikan adalah ajakan Ilahiah yang dulu diserukan oleh Bilal, sang pemilik suara merdu, untuk satu kota Mekkah. Seruan azan dari Bilal ini sungguh menggugah hati kaum Muslim saat itu.

            Saya kemudian berfikir apa memang dengan alasan demi mensyiarkan ajaran Islam kita lantas abai terhadap lingkungan sekitar? Apa tidak akan lebih menarik bila suara azan itu berasal dari mesjid pusat yang telah diaudisi dengan ketat dengan sound system yang sangat bagus. Masalah mau shalat di mana itu terserah masing-masing. Yang jelas kaum Muslim sudah tergugah untuk salat shubuh.

            Ah sepertinya ini akan hujan protes dari para seleb kepagian?

           

           

Komentar»

1. taqiku - Februari 14, 2008

Alangkah indahnya kalau suara adzan didengar dari luar bumi, dimana suara -suara itu bersahutan silih berganti menyebut asma Allah, terus menerus dari seluruh penjuru dunia dikarenakan adanya perbedaan waktu disetiap tempat.
maaf mas, numpang lewat..

2. adis - Februari 26, 2008

dengan semakin berkembangnya dunia elektronika, sehingga disetiap mushalla atau masjid dikota besar khususnya, berlomba – lomba entah untuk pamer atau hal lain. karena kejadian tersebut hanya terjadi dikota2 besar yang mengelompokkan umat muslim menjadi kelompok yang berbeda2, suatu contoh didesa lebak banten cikotok hanya terdapat 1 buah mesjid saja sehingga saat subuh tiba tidak terjadi suara – suara bersahutan seperti yang terjadi di kota.

3. salmanparisi - Februari 26, 2008

Sepakat. Sekarang ini mesjid malah menjadi identitas pribadi atau kelompok, bukan identitas keislaman. Di mesjid sekrang lebih kentara warna individu atau kelompok. Kita rindu mesjig yang menaytukan semua umat tanpa pandang asal-usulnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: