jump to navigation

Berdamai dengan Alam Desember 29, 2007

Posted by salmanparisi in Uncategorized.
trackback

“We had to destroy the world in theory before we could destroy it in practise.” R. D. Laing, psychiatrist.)

Bencana Karanganyar di samping bencana-bencana lainnya, membukakan kesadaran kepada kita bahwa ada yang salah dalam hubungan kita dengan alam. Kesadaran ini juga bukan hanya kesadaran nasional kita tetapi sudah menjadi kesadaran global yang tercermin dari pelaksanaan konferensi lingkungan internasional di Bali baru-baru ini.

Di Karanganyar penduduknya adalah para pengembang bunga super mahal, bunga Anthurium, bahkan ada yang sampai berharga 4 miliar. Tetapi belum sempat mereka menikmatinya, alam telah menguburkan rumah, bunga dan mimpi mereka.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada mereka dan dalam belasungkawa kepada mereka, ternyata salah satu sebab terjadinya bencana Bukan karena penggundulan hutan. Tanah yang berada di daerah tersebut seharusnya ditanami dengan pohon-pohon yang mempunyai akar yang kuat sehingga bisa merekat dengan tanah. Namun, warga sekitar masih menanam sayur-sayuran yang akarnya tidak bisa merekat dengan tanah. Akibatnya, jika terjadi hujan lebat bisa menyebabkan longsor. “Tidak ada penggundulan hutan. Di bukit itu warga masih menanam sayuran. Seharusnya (yang ditanam) tanaman keras,” ujar Bupati Karanganyar Rina Iriani.

Tetapi benarkah demikian, mungkin saja itu salah satu faktor penyebab tetapi kita juga jangan menutup mata dan menimpakan kesalahan ini kepada korban bencana bahwa ada sebab lain yang lebih massif dan lebih bertanggung jawab yaitu illegal logging yang melibatkan berbagai oknum.

Apa Yang Kita Lakukan Terhadap Alam

Setiap terjadi bencana kita selalu mengedepankan pendekatan teknis. Seolah bencana ini hanya problem teknis dan akan selesai bila diselesaikan dengan teknik dan strategi yang tepat. Kalau tejrjadi bencana banjir dan gempa gampang saja tinggal tanami pohon sebanyak-banyaknya, perbaiki sistem drainase dan jangan membuang sampah sembarangan.

Tidak ada yang salah dengan pendekatan teknis karena dalam tarap tertentu memang dibutuhkan. Tetapi benarkan bencana alam ini hanya karena problem teknis semata? Adakah sesuatu yang berada di atas pendekatan teknis, misalnya cara pandang manusia terhadap alam?

Sudut Pandang

Menurut R. D. Laing yang dikutip di atas bahwa kita sudah menghancurkan dunia ini dalam teori sebelum kita menghancurkannya di dalam praktik.

Kiranya perlu dicatat bahwa persepsi seorang individu terhadap alam seringkali mempengaruhi tindakan-tindakannya. Hal ini berarti imaji, citra manusia tentang alam akan langsung mempengaruhi perbuatan-perbuatan, kepercayaan, tingkah laku social dan kehidupan pribadi manusia.

Sesungguhnya cara kita hidup berkaitan erat dengan cara kita memandang dunia atau pandangan dunia (world view). Dengan demikian, pada batas tertentu pembahasan masalah krisis ekologi berkaitan dengan pandangan dunia yang berlaku saat ini serta penyelesaiannya pada level pandangan dunia juga.

Kita menyadari bahwa kita telah salah memperlakukan alam ini. Meminjam istilah Sayid Husain Nasr, di dalam bukunya Man of Nature, The Spiritual Crisis of Modern Man, bagi manusia modern alam telah menjadi laykanya pelacur (prostitute) yang dimanfaatkan tanpa rasa tanggung jawab terhadapnya.

Sungguh aneh manusia modern ini mereka tinggal di bumi ini, mereka minum airnya, makan hasil bumi dan lautnya dan menghirup udaranya. Alam memberikan yang terbaik kepada manusia. Manusia pun sadar bahwa mereka tak bisa hidup tanpa ada kesatuan dengan alam.

Tapi manusia sekarang itu, sekali lagi meminjam istilah Nasr, ibarat orang yang ‘tidur berjalan’, bertindak secara kontradiktif. Membangun tetapi merusak lingkungan. Sebuah keadaan anomali. Manusia menghuni alam ini, tetapi pada saat yang sama menausia merusak alam ini. Manusia di satu sisi gencar membangun demi kesejahteraan, tetapi di sisi lain malah menimbulkan bencana karena pembangunan itu juga menggerus lahan-lahan yang menjaga keseimbangan alam. Semakin manusia mengokohkan dominasi terhadap alam, semakin alam menguatkan perlawanannya terhadap manusia. Manusia menyadari bahwa mereka hanya bisa hidup dengan menghirup udara dan meminum air yang bersih, tetapi pada kenyataannya mereka menciptakan industri dan alat-alat yang justru menimbulkan polusi udara dan air.

To be contnued

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: